Beranda > General > Sosok Panutan Atau Contoh Buruk (bagian-4)

Sosok Panutan Atau Contoh Buruk (bagian-4)

Pembinaan Karakter

Berbicara soal pembinaan karakter dalam kegiatan pembelajaran, maka persoalan ini tidak hanya menjadi bagian peserta didik, lebih dari itu pendidik merupakan salah satu faktor dominan yang sangat mempengaruhi keberhasilannya.

Sering kali seseorang (pendidik) merasa sangat yakin akan dapat merubah dan mempengaruhi orang lain (peserta didik). Sebelum berharap bisa mengatur dan merubah orang lain secara epektif, sebaiknya seorang pendidik memberikan contoh yang dapat diikuti oleh orang lain. Mustahil seorang pendidik dapat menginspirasi orang lain menuju pencapaian yang tinggi, jika sebelumnya tidak bisa menginspirasi dan menyemangati diri untuk melakukan hal yang sama.

Sebagai teladan, jangan melakukan kesalahan yang seperti banyak orang lain lakukan dengan mengatakan ” Jika saya diberi kesempatan akan saya tunjukkan kepada mereka bahwa saya bisa”. Langkah pertama bagian seorang pendidik dalam pembinaan karakter adalah dengan cara terlebih dahulu membuktikan bahwa kita memiliki kepribadian yang menarik, dan berharga.

Pendidik sebagai faktor dominan dalam pembinaan karakter sekaligus sebagai pribadi  yang akan diteladani oleh peserta didik, setidaknya memperhatikan beberapa hal berikut :

a. Penggunaan Bahasa

Bahasa menunjukkan bangsa demikian pepatah yang sering kita dengar, bahasa secara langsung menunjukkan siapa pemiliknya, seperti apa sikap dan prilakunya dan menjadi poin pertama sebagai objek penilaian oleh orang lain.

Bahasa adalah ucapan, pikiran, perasaan manusia yang dampaikan dengan alat bunyi atau isyarat lainnnya. Bahasa jelas menjadi pembeda ucapan, pembeda pikiran dan perasaan antara setiap orang, bagian ini juga yang paling mudah ditiru oleh pendengar, maka karakter seseorang sangat ditentukan oleh cara seseorang dalam menggunakan bahasa.

b. Penggunaan Logika

Bahasa yang baik dan benar, akan menjadi bermakna jika didukung oleh logika yang berupaya menyajikan mana yang benar dan mana yang salah, bahasa yang baik dan benar dan senantiasa mengajak orang lain untuk menilai yang benar dan yang salah, serta  berani mengambil keputusan untuk memilih secara mandiri dan independen, merupakan modal yang berharga bagi terbentuknya karakter yang positif.

c. Penggunaan Statistika

Statistika yang dimaksudkan adalah kemampuan untuk memperkirakan kecendruangan hasil, sehingga mampu menilai kemanfaatan dan kerugian, Bahasa yang baik dan benar, dengan logika yang benar, akan lebih mudah membawa kepada kemanfaatan dalam semua sisi. Pribadi yang diharapkan lebih mudah tumbuh jika seseorang telah mengenal dengan sadar keuntungan dan kerugian atas satu kasus yang dihadapi.

Seseorang akan mempunyai integritas, lebih matang, tidak gegabah dan emosional dalam bertindak, akan tumbuh sikap objektif dan secara sadar akan mengesampingkan perasaan dalam memutuskan sesuatu.

d. Penggunaan Etika

Tidak ada gunanya terampil berbahasa, kuat dalam logika, dan teliti dalam menduga kecendrungan dari sebuah tindakan, jika sikap sopan santun tidak mengemuka. Kesopanan merupakan adab dalam beriteraksi, bagaimana memperlakukan orang tua, sebaya dan orang lain yang lebih muda. Etika dengan semua yang ada, termasuk dengan lingkungan sekeliling merupakan cermin dari karakter yang paling dalam, karena bagian ini terlihat bukan hanya karena bahasa verbal, tetapi akan mudah terlihat melalui bahasa tubuh seseorang.

e. Penggunaan Estetika

Bahasa, logika, statistika, etika, akan lengkap jika dibungkus dengan estetika, estetika akan memandu seseorang untuk mengapresiasi sekelilingnya, tumbuh kemampuan untuk menilai keindahan alam raya, mengakui keagungan sang pencipta,  dengan demikian akan tumbuh spirit dalam diri sendiri bahwa sesungguhnya segala sesuatu yang ada  sangat bermakna, ada kesadaran untuk menjaga, melestarikan dan membuat segala sesuatunya menjadi harmoni.

Pembinaan karakter pada prinsipnya bukan semata-mata transfer pengetahuan dari seorang pendidik kepada peserta didik, lebih dari itu penanaman nilai moral dan budaya.  Moral dan budaya yang ditanamkan tidak cukup hanya dengan  perkataan, tetapi dengan perbuatan sehingga mampu menjadi cermin bagi peserta didik. Pendidikan adalah kegiatan sepanjang hayat, maka semua orang berkewajiban sebagai pendidik sekaligus sebagai peserta didik. Pembinaan karakter  merupakan satu keniscayaan, karena dengan upaya ini karakter bangsa akan tumbuh menuju Indonesia yang bermartabat. / Irwan Putra : Ketua Konsorsium Otomotif

Kategori:General
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: