Beranda > General > Problematika Umum Karakter Peserta Didik (Bagian-2)

Problematika Umum Karakter Peserta Didik (Bagian-2)

Pembinaan Karakter

Berbicara soal pembinaan karakter dalam kegiatan pembelajaran, maka pembahasan akan fokus kepada interaksi peserta didik dan pendidik. Peserta didik pada lembaga kursus dan pelatihan yang mayoritas berusia remaja, merupakan sasaran pembinaan karakter sebagai cerminan dari peserta didik yang memiliki kepribadian mulia.

Membahas masalah remaja tentu tidak akan habis-habisnya , namun disini hanya akan dibahas sebagian kecil masalah kenakalan remaja yang mungkin saja mencerminkan karakter yang tidak diharapkan.

Saat ini generasi muda khususnya remaja, telah digembleng dengan berbagai disiplin ilmu, hal ini merupakan persiapan untuk mengemban tugas pembangungan pada masa yang akan datang. Sudah banyak generasi muda yang menyadari peranan dan tanggung jawabnya terhadap negara di masa yang akan datang, tetapimasih banyak generasi muda yang kurang menyadari tanggung jawabnya sebagai generasi penerus bangsa.

Disatu pihak remaja berusaha berlomba-lomba dan bersaing dalam menimba ilmu, tetapi dilain pihak remaja berusaha menghancurkan nilai-nilai moralnya sebagai manusia. Hal ini sangat memprihatinkan bagi kita semua. Memang tingkah laku mereka hanyalah merupakan masalah kenakalan remaja, tetapi dalam waktu lama akan dapat menuju suatu tindakan kriminalitas yang sangat meresahkan.

Pada umunya kenakalan remaja ini dilakukan oleh anak yang berumur antara 15-18 tahun. Masa remaja merupakan masa dimana sedang beralihnya masa anak-anak menuju masa kedewasaan. Pada masa ini jiwa mereka masih labil dan belum memiliki pegangan yang pasti. Mereka berbuat sesuai dengan pikiran dan nalar, perbuatan itu mereka lakukan dalam mencari jati diri mereka sebenarnya.

Masalah remaja sebagai usia bermasalah. Setiap periode hidup manusia punya masalahnya sendiri-sendiri, termasuk periode remaja. Remaja seringkali sulit mengatasi masalah mereka. Ada dua alasan sebagai penyebabnya, yaitu : pertama; ketika masih anak-anak, seluruh masalah mereka selalu diatasi oleh orang dewasa. Hal inilah yang membuat remaja tidak mempunyai pengalaman dalam menghadapi masalah, sehingga menjadi tidak mandiri. Kedua; karena remaja merasa dirinya telah mandiri, maka mereka mempunyai gengsi dan menolak bantuan dari orang dewasa.

Remaja pada umunya mengalami bahwa pencarian jati diri atau keutuhan diri itu suatu masalah utama karena adanya perubahan sosial, fisiologi dan psikologis di dalam diri mereka maupun di tengah masyarakat tempat mereka beraktivitas. Perubahan ini dipercepat  dalam problematika masyarakat kita yang semakin kompleks. Adapun masalah masalah yang dihadapi remaja sebagai peserta didik  antara lain :

Kebutuhan akan figur teladan

Remaja jauh lebih mudah terkesan akan nilai-nilai luhur yang berlangsung dari  keteladanan orang tua dan pendidik mereka daripada hanya sekedar nasihat bagus yang  hanya berupa kata kata indah.

Sikap apatis

Sikap apatis meruapakan kecenderungan untuk menolak sesuatu dan pada saat yang b ersamaan tidak mau melibatkan diri di dalamnya. Sikap apatis ini terwujud di dalam ketidakacuhannya akan apa yang terjadi di masyarakatnya.

Kecemasan dan kurangnya harga diri

Kata stress atau frustasi semakin umum dipakai kalangan remaja. Banyak kaum muda yang mencoba mengatasi rasa cemasnya dalam bentuk “pelarian” (memburu kenikmatan lewat minuman keras, obat penenang, seks dan lainnya).

Ketidakmampuan untuk terlibat

Kecenderungan untuk mengintelektualkan segala sesuatu dan pola pikir ekonomis, membuat para remaja sulit melibatkan diri secara emosional maupun secara efektif dalam hubungan pribadi dan dalam kehidupan di masyarakat. Persahabatan dinilai dengan untung rugi atau malahan dengan uang.

Perasaan tidak berdaya

Perasaan tidak berdaya ini muncul pertama-tama karena teknologi semakin menguasai gaya hidup dan pola pikir masyarakat modern. Teknologi mau tidak mau menciptakan masyarakat teknokratis yang memaksa untuk berpikir tentang keselamatan diri kita di tengah-tengah masyarakat. Lebih jauh remaja mencari “jalan pintas”, dan menggampangkan persoalan misalnya dalam kegiatan belajar, lebih memilih menggunakan segala cara untuk tidak belajar tetapi mendapat nilai baik atau mendapatkan izasah.

Pemujaan akan pengalaman

Sebagian besar tindakan negatif anak muda dengan minumam keras, obat-obatan dan seks bebas, pada mulanya berawal hanya dari mencoba-coba. Lingkungan pergaulan anak muda dewasa ini telah memberikan pandangan yang keliru tentang berbagai hal yang mereka alami, ada anggapan dikalangan remaja bahwa belum dikatakan berani jika belum mencoba hal-hal yang dilarang.

Kategori:General
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: