Beranda > General > Di Bawah Gedung Pencakar Langit

Di Bawah Gedung Pencakar Langit

Seperti biasa pagi ini, saya kembali melewati jalanan yang sama dari dan menuju tempat kerja. Seperti biasa juga jalanan Jakarta harus dilewati dengan perjuangan dan kesabaran, karena diantara pengguna jalan harus saling berbagi untuk satu kesempatan mengambil posisi di depan.

Lampu merah pertama di jalanan yang biasa aku lalui, tiga pengamen kali ini telah siap siaga petik senar gitarnya dengan jemari yang sepertinya juga tampak letih, dua ibu dengan menggendong bayinya secara berurut menyeka kaca depan mobil yang sempat berhenti, saya tidak melihat apa yang mereka terima atas usaha dan jasanya.

Lampu hijau menyala, semua tancap gas dengan harapan lampu merah di depan sana tidak akan menyala sehingga waktu tempuh menjadi lebih cepat sampai ketujuan. bener dugaan saya lampu merah akan menyala lebih cepat dari biasanya, saya kembali terhenti untuk kali berikutnya.

Dua pengamen jalanan kembali beraksi dengan mendekati kaca jendela, dan ibu ibu yang sedang mengendong bayinya kembali menyeka kaca depan mobil-mobil yang sementara berhenti. Mereka orang-orang yang berbeda, tetapi dengan aktivitas yang hampir sama, mencari rizki dari tuan dan nyonya yang setiap hari hilir mudik di depan batang hidung mereka.

Sementara di kiri dan kanan jalan tampak gedung tinggi dan pertokoan yang memamerkan kemewahan, sangat kotras bedanya dengan keramaian jalanan di sekitarnya. Mungkin ini akibat dan dampak yang tidak bisa dihindari dari gejala postmodrenisme, orang tidak lagi terlalu memikirkan sesamanya. Bahkan pemerintahnya sendiri terlihat seperti tidak berdaya untuk mencarikan alternatif solusi bagaimana mengatasi kondisi seperti ini.

Tepat disisi kiri saya, seorang penarik gerobak tua yang mungkin sudah berusia lanjut terlihat berusaha mengerahkan seluruh kekuatan yang ada pada dirinya untuk menarik gerobaknya ditengah jalanan yang demikian padat. Bekerja dengan penggung yang terus terjemur terik untuk memindahkan sampah-sampah kota hasil dari pesta keluarga-keluarga yang berkecukupan.

Apakah kita tidak menyadari, bahwa dalam gerobaknya bisa saja terdapat sampah dari rumah tangga kita yang tadi malam berpesta ria menikmati kesenangan hidup. Dalam kondisi seperti ini saya selalu terkenang akan wajah ayah saya, bagaimana seorang ayah harus berjuang untuk mengidupi keluarganya, melawan segala tantangan dan memikul semua beban yang harus ditanggungnya.

Ayolah warga Jakarta, sekalipun semua warga kota besar dimanapun anda berada. Tolong beri jalan kepada penarik gerobak ini berpanas terik dengan bebannya, sementara anda ada di dalam mobil yang bersejuk AC. Janganlah berebut jalan kasih mereka kesempatan di depan karena mereka membawa sampah anda.

Tidak pantas anda atau saya memakinya, mempersepsikannya sebagai penyebab kemacetan dijalan raya. Mereka manusia yang mulia seperti juga tuan-tuan dan nyonya. Mereka tidak punya otoritas dan kapasitas untuk memarahi anda, mereka juga tidak punya posisi sehingga bisa korupsi seperti yang terbiasa melakukannya.

Honor bapak penarik sampah itu tidak seberapa, mungkin lebih kecil dari honor seorang pembicara pada sebuah seminar, bahkan mungkin lebih kecil dari honor mahasiswa yang memberi pelatihan singkat di sebuah tutorial.

Yang pasti merekalah pahlawan kota ini, tanpa bantuan mereka kota Jakarta mungkin menjadi lautan sampah lagi.

Bukankah dunia ini akan adil jika kita saling memberikan kesempatan, apa lagi disaat kita mengetahu sesungguhnya apa-apa yang mereka kerjakan adalah upaya dari mengambil sebagian dari tanggung jawab kita. (Irwan)

Kategori:General
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: