Beranda > Inspirasi > Dialog Lebah dan Bunga

Dialog Lebah dan Bunga

Satu waktu aku terbangun dalam keheningan malam sepi dan dingin telah menusuk diseluruh pori-pori. Kusaksikan tubuhku terkulai lemas di pembaringan dengan selimut yang ternyata tidak lagi menutup tubuh lusuhku. Aku mengambil waktu dan lebih fokus mengamati setiap sisi, guna mendapatkan keyakinan bahwa tubuh lemas itu aman untuk aku tinggalkan sejenak.

Apa artinya : karena aku akan pergi untuk beberapa lama melihat-lihat suasana, ada rasa kangen kembali melakukan pengembaraan untuk mengunjungi rimba peradaban dan menelusuri makam-makam perasaan. Rimba peradaban itu semakin jauh karena ilegal loging yang tidak terkendali dan makam perasaan itu mulai samar, nisannya telah banyak diratakan dengan tanah akibat semakin luasnya kebutuhan lahan bagi panggung sandiwara, dan altar persembahan dari budaya baru disekitar manusia.

Negeri bahasa di mana aku pernah singgah tidak lagi seindah dulu. Sampah berupa ucapan dan perkataan sumpah serapah bertebaran dimana-mana. Rambu-rambu jalan berupa tanda baca dan tanda berkata kata tidak lagi berfungsi sebagaimana mestinya.

Negeri bahasa adalah negeri dimana ucapan dan pikiran bisa disampaikan dengan berbagai cara, boleh lisan, tulisan, juga isyarat. Aku pernah merasakan tinggal lama di Negeri ini. Negeri dimana orang buta bisa melihat, orang bisu dapat berbicara, dan orang tulipun bisa mendengarkan semua suara.

Di sudut taman hati dalam rimba peradaban ini, masih tersisa sedikit taman bunga. Sayup terdengar suara berbisik dan dengan rasa penasaran akupun mendekatinya. Oh.. ada perbincangan Lebah dan bunga.

Bunga ternyata sedang mogok godaan dan sentuhan, dan lebah ternyata terus mengajukan proposal dengan alasan kodrat dan kewajiban. Intinya bunga melarang lebah mendekatinya, lebah mengatakan bagaimana ini, sudah beberapa bulan ini aku tidak menyetuhmu, bukankah sekarang sedang musim kering dan anginpun sedang lambat berhebus, sementara hujan juga belum kunjung turun. Kalau bukan aku siapa lagi yang akan menyerbuki sarimu, agar dikau mekar dan tumbuh berkembang bagi banyak tujuan pandang mata.

Jawab bunga, sekali tidak tetap tidak. Lebah kembali meyakinkan dengan argumen terbaru : Selama dirimu mogok sentuhan, aku telah mengembara ke pasar-pasar tradisional, mencuri gula pedagang untuk mendapatkan manisan. Aku juga telah menemukan manusia krisis madu, cadangan protein menipis, sementara panas dalam dan sariawan hampir menjadi wabah. Jika tidak tersedia madu, para pedagang langsung memberikan alasan Bunga mogok sentuhan dan lebah kekurangan suplai manisan.

Hal lain adalah : Petani krisis bunga, para peziarah di pemakaman prustasi apa yang akan ditaburkan di kuburan keluarga dan sanak saudaranya, jika bunga untuk nyekar tidak lagi tersedia.

Setelah berfikir panjang bungapun mengalah dan lebah kembali punya harapan. Singkat cerita pengintaianku terlihat oleh mereka. Setelah menghampiriku bungapun menyampaikan harapannya.

Aku mau mekar, berkembang, dan berguna bagi manusia. Namun demikian aku sangat berbahagia jika dijadikan tanda ucapan selamat bagi mereka yang berbahagia, utusan rasa cinta, dan tujuan dari pandangan mata yang letih. Jangan jadikan diriku selalu sebagai tanda ucapan bela sungkawa akibat kekerasan manusia.

Banyak yang tidak mau kehilangan aku, karenanya aku selalu di dekap di dada mereka yang cemas… sementara mereka tidak pernah meyadari bahwa pada akhirnya aku akan layu karena dadanya yang panas.

Aku telah hadir disetiap kematian, dan aku juga telah menjadi sampah dibanyak pemakaman. Marilah kita saling mencintai, saling berkasih sayang, dan saling berkirim bunga atas nama cinta… sekali lagi bukan sebagai utusan kesedihan dan duka cita manusia.. demikian bunga layu itu mengakhiri

Aku kembali ke pembaringanku, dan kembali melihat tubuhku yang masih kaku. Dengan mengucapkan salam aku bisikan di telinga tubuhku, bahwa aku telah kembali, sesuai janji sebelum sang fajar tiba.

Mungkin ada hal yang baik jika aku dan juga anda melakukan dialog dengan diri sendiri, sehingga kita bisa melihat diri dan alam raya ini dengan sisi dan sudut pandang yang tidak selalu biasa. ………… Irwan

Kategori:Inspirasi
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: