Beranda > Inspirasi > Belajar Dari Supir Angkutan Kota

Belajar Dari Supir Angkutan Kota

Pada satu hari di akhir pekan bulan juli 2009 ini, kami satu keluarga kecil (Saya, Istri dan Bayi Kami satu-satunya) Jalan2 menikmati keindahan Kota Bandung. Bandung Electronic Centre, BIP, dan berkeliling kota. Menjelang senja hari, Kami menuju jalan Jamika untuk membeli beberapa keperluan Bayi Pertama kami. Lengkap dan tersedia apa yang kami butuhkan.

Setelah melakukan transaksi sederhana, dan mendapatkan dua tas belanjaan Kami memutuskan menaiki Angkutan Kota, dipertengahan jalan sebelum tujuan bertepatan dengan Ajan Magrib dan kami meminta angkutan kota itu berhenti, karena ada Masjid yang terlihat.

Jelas itu salah kami (salah saya) karena Istri saya menggendong Bayi kami, dan sayalah yang bertanggung jawab terhadap barang2 keperlua Bayi kami. Kami baru menyadari 1 (satu) dari dua tas belanjaan kami tertinggal dan terbawa oleh angkutan Kota. Saya langsung nelangsa, bukan karena jumlahnya. Tetapi karena barang-barangnya berupa Susu Bayi, Biscuit bayi, Pampers, dan beberapa lainnya.

Apa yang menyebabkan kami memutuskan untuk membelikannya, karena Bayi Kami sudah saatnya mendapatkan asupan makanan, sementara persediaanya sudah habis di perjalanan menuju Bandung.

Sebelum ini Saya sedang membaca buku dengan judul Bushido. Buku yang mengulas tentang nilai-nilai tradisional masyarkat Jepang berdasarkan kode etik Samurai pada jaman feodal dulu kala. Nilai-nilai yang dibahas antara lain tangung jawab, kehormatan, sopan santun, kebajikan, keadilan, kejujuran, ketulusan hati dan banyak nilai-nilai lainnya yang belum saya sebutkan karena saya sendiri belum selesai membaca.

Pada suatu bagian dari buku tersebut saya menemukan penggambaran tentang bertapa terhormat-nya seorang Samurai pada jaman itu, hingga ucapan yang keluar dari seorang Samurai itu adalah jaminan atas kebenaran dan sangat dapat dipercaya. Tidak perlu membuat surat kontrak hitam diatas putih yang bermaterai dan ditandatangani para pihak, seorang Samurai mempertanggungjawabkan ucapannya dengan nyawanya sendiri jika di kemudian hari ternyata dia berlidah ganda. Pada waktu itu ucapan seorang Samurai adalah jujur dan tulus. Integritas dari seorang Samurai sudah tidak diragukan lagi. Maka itu seorang Samurai marasa sangat terhina jika ada orang yang meminta dia untuk bersumpah. Tidak ada kehormatan dengan bersumpah.

Ironisnya saat sekarang, kemanakah perginya nilai-nilai ini di Indonesia, apakah nilai-nilai moral ini berbeda antara Indonesia dengan Jepang?? Banyak orang-orang meng-obral sumpah dan janji-janji agar bisa lolos dari masalah atau mendapatkan popularitas. Misalnya seorang maling ayam yang telah dicurigai, ketika ditanya dia akan berkata “Sumpah bukan saya yang mencuri” maka loloslah dia dari hukuman warga. Lagi, seorang politisi yang menjanjikan A-Z demi popularitas hingga mendapatkan suara terbanyak dan menang.

Tetapi setelah terpilih enggan melepaskan jabatan ketika janji-janji semasa kampanye tidak dapat terpenuhi, dan bersikap seperti tidak merasa bersalah sama sekali. Bahkan yang jelas-jelas ketahuan korupsi pun enggan melepas jabatannya, ada pula yang memimpin organisasinya dari balik jeruji penjara. Bagaimana republik ini?? Kenapa tidak mengundurkan diri saja demi kehormatan, dari pada dipecat dengan tidak hormat.

Pengunduran diri merupakan bentuk pengakuan dan tanggung jawab atas kesalahan yang diperbuat. Mengakui kesalahan dan berani bertanggung jawab bukanlah hal yang mudah, ia membutuhkan jiwa besar dan integritas, akan tetapi masyarakat memberikan penghargaan dan kehormatan yang tinggi atas hal tersebut.

Isi buku ini mungkin tidaklah terkait dengan kehilangan belanjaan kami yang terbawa angkutan Kota. Setelah selesai shalat magrib kami memutuskan untuk membeli kembali beberapa perlengkapan Bayi yang kami butuhkan, di sekitar masjid itu. Kami memutuskan berjalan kaki karena tempat yang kami tuju untuk kembali tidak lagi terlalu jauh untuk dilalui.

Kami berjalan di sebelah kanan jalan, tentu berhadapan dengan arah kendaraan. dari kejauhan kami melihat lampu mobil berkedip-kedip dan menyilaukan pandangan. Mobil itu berhenti tepat dihadapan kami, tenyata angkutan kota dengan 2 orang penumpang di bangku belakang.

“Pak Mohon maaf Belanjaan bapak terbawa oleh saya, saya telah melihat isinya: adalah kebutuhan bayi. Saya juga pernah punya bayi dan sangat tau bagaimana rasanya membesarkan anak. perasaan saya tidak tenang jika tidak menemukan bapak di jalan ini demikian kata sang sopir”) kami menerima belanjaan itu, dan menawarkan sesuatu sebagai rasa terima kasih kami. Tetapi Bapak Sopir Angkot ini menolak dengan bahasa yang sangat santun. sembari minta di doakan agar selamat di jalan angkutan kota ini kemudian berlalu di keramaian jalan raya.

Saya adalah pengguna rutin angkutan kota, dan saya telah melihat banyak tipe pengemudi, sering penumpang sebut “Mengejar setoran Bang” untuk menegur sopir yang agak ugal-ugalan.

Kami mendapat Pelajaran yang berharga dari seorang supir angkot. persis apa yang dimaksud dengan Bushido, atau juga samurai. Ternyata banyak ketulusan dan kesantunan datang dari wajah-wajah lusuh nan polos. dan sebaliknya sering ditemukan juga “ketidak santunan” ada pada wajah-wajah yang terpampang di tembok2 rumah kita saat menjelang kampanye

Terima Kasih Bapak Sopir, semoga di satu kesempatan yang baik kita dapat bertemu kembali, tentu saya akan menceritakan kisah ini kepada Bayi saya, sesaat setelah dia mengerti apa itu bahasa dan rasa.

Lagi saya meminjam kata-kata dari buku
“Setialah kepada dirimu sendiri: kalau dalam hatimu tidak menyimpang dari kebenaran, tanpa berdoa pun, dewa-dewa akan menjaga keselamatanmu”. Yang pasti… saya akan teruskan membaca buku ini, dan lain waktu akan saya ceritakan kembali

wasalam.. Irwan Putra

Kategori:Inspirasi
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: