Beranda > Beranda > Bandar Lampung

Bandar Lampung

Pada tanggal 25 Juni 2008, saya berkesempatan ke Bandar Lampung untuk satu urusan pekerjaan, tepat jam 18.00 kapal roro ekonomi bergerak dari pelabuhan merak menuju pelabuhan bakauheni Lampung, penumpang kapal terlihat tenang berharap segera sampai ke seberang tanah Lampung yang di tuju.

Pukul 20.20 kapal roro yang saya tumpangi merapat ke pelabuhan Bakauheni, dengan rasa sedikit “puyeng” karena dimainkan oleh gelombang selat sunda kepala sedikit terasa berat ada rasa ingin sedikit istirahat, namu segala berpacu dengan waktu agar cepat sampai tujuan. Tidak ada pilihan lain untuk sebagian besar masyarakat yang akan menyeberang menuju pulau sumatera, menggunakan pesawat udara jelas bukan pilihan, disamping harga yang mahal dan tidak menentu ditambah pula dengan jadwal penerabangan yang terlalu sedikit yaitu pagi dan sore hari.

Kali ini kunjungan saya yang pertama ke Kota Bandar Lampung, walau jalan cukup lenggang dengan kiri kanan yang masih kosong dari bangunan, tetapi cukup ramai dengan poster dan wajah-wajah colon Gurbenur yang akan ikut “pilkadal” semoga satu ketika ditempat sepi itu akan mereka bangun sesuatu yang bermanfaat setelah mereka berkuasa.

Tiga jam lebih di perjalanan antara Bakauheni dan Bandar Lampung saya menyaksikan banyak tempat yang sepi sepanjang jalan antara satu pemukiman penduduk sampai ke pemukiman penduduk lainnya, banyak konvoi truk yang membawa barang industri dan pertanian, tentu ini menjadi kekhawatiran dan kerawanan buat pengemudi, namun saya tidak menemukan satupun Patorli Polisi sepanjang jalan Bakauheni – Bandar Lampung, semoga saja karena tidak terlihat oleh saya.

Saya sampai di Bakauheni sekitar pukul 23.00 dan mencari penginapan untuk Istirahat. Setelah selesai urusan pekerjaan, Saya menuju Terminal Bis Raja Basa, rasa penat dan letih penumpang yang berdesakan terlihat menghiasi wajah masyarakat yang akan menuju Pelabuhan Bakauheni, sesaat sebelum berangkat Petugas terminal dengan pakaian Departemen Perhubungan menaiki Bis, dengan kata-kata yang kelur dari mulutnya seribu…seribu, ternyata satu penumpang harus membayar seribu rupiah, sesekali terjadi perdebatan di pintu gerbang saya juga sudah bayar, tapi petugas itu tidak mau tahu.

Saya tidak membayar, karena petugas tidak memiliki karcis bukti pembayaran yang mestinya diberikan kepada saya, menurut saya ini PUNGLI, kasihan masyarakat, karena kata penumpang yang duduk disamping saya, itu hal biasa Mas, dari dulu sudah terjadi.

Hal yang ingin saya sarankan adalah, kepada aparat Kepolisisan untuk meningkatkan Patroli di jalur Bakauheni- Bandar lampung, untuk menghindari kejahatan atau kecelakan pengguna jalan. Untuk Dinas Perhubungan Bandar Lampung khusunya petugas yang diberi tanggung jawab di Terminal Raja Basa, Benahi kinerja bawahannya… kasihan masyarakat. (Irwan)

Kategori:Beranda
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: