Beranda > Beranda > Kurikulum dan Program “Life Skills”

Kurikulum dan Program “Life Skills”

BAGI pakar kurikulum Prof Dr S Hamid Hasan MA dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, sebelum menentukan kurikulum yang akan dipakai harus jelas dulu orientasi kurikulum dan filosofi yang dipakai dalam pembuatan kurikulum.

.

“Selama ini saya ngotot dengan orientasi dan filosofi kurikulum karena ada pandangan yang mengatakan, kurikulum itu hanya untuk mengajarkan disiplin ilmu seperti yang sekarang itu bukan jelek. Akan tetapi, kalau sekarang kita menginginkan agar kurikulum itu dapat memberikan kemampuan bagi anak untuk hidup, maka teori kurikulumnya harus berubah, filosofi kurikulumnya pun harus berubah,” kata Hamid.

.

Implikasi lebih lanjut, pelajaran ilmu pengetahuan sosial (IPS) yang sekarang juga harus berubah. IPS bukan lagi mempelajari ilmu sosial, tetapi untuk mempelajari apa yang terjadi di lingkungan sosial budaya peserta didik, sehingga apa yang dipelajarinya itu dapat membuat anak hidup dan bisa mengembangkan lingkungannya. Artinya, kalau memang yang diinginkan melalui kurikulum berbasis kompetensi benar-benar mempersiapkan kemampuan anak untuk hidup, maka tidak ada lagi persoalan disiplin ilmu seperti yang tampak dan dianut selama ini di sekolah-sekolah.

Hamid melihat, saat ini perkembangan disiplin ilmu cenderung menjadi terintegrasi dan mengalami pembauran begitu rupa. Sekarang, yang dipentingkan adalah persoalan dan bukan disiplin ilmunya. Di Amerika Serikat, misalnya, Nasional Council for Social Studies bahkan mendefinisikan social studies meliputi agama, sains, matematika, dan budaya. “Jadi bukan lagi disiplin ilmu yang dipelajari, tetapi apa, sih, (sesungguhnya) masyarakat ini, mengapa begini dan semuanya begitu, dan sebagainya,” kata Hamid.

.

Di sini arti pentingnya kriteria yang jelas. Dalam kaitan keberadaan sebuah kurikulum, ketidakjelasan orientasi dan filosofi yang dipakai membuat apa yang diharapkan dari pendidikan juga tidak jelas. Tentang hal ini Hamid mencontohkan rencana penerapan kurikulum berbasis kompetensi, di mana Pusat Kurikulum masih belum mau melangkah maju. Seharusnya, Pusat Kurikulum harus mau mengatakan bahwa pengembangan kurikulum yang diorientasikan pada pencapaian hasil itu tidak dirumuskan dalam bentuk kompetensi tetapi standar.

“Sebab, perkembangan ke depan sudah menuntut standar dalam setiap keahlian tertentu, dan bukan lagi sekadar kompetensi saja,” ujar Hamid.

Kurikulum berbasis standar diangap lebih mewakili. Standar itu menunjukkan kemampuan minimum yang harus diperlihatkan seseorang agar bisa diterima masyarakat atau dunia kerja dalam bidang tertentu, sehingga dengan suatu standar yang sama dalam bidang tertentu bisa saja ada beragam proses pembelajaran atau kurikulum yang dipakai.

.

Hamid lalu mencontohkan kemampuan vokasional membuat desain otomotif. Secara nasional, ada standar atau kemampuan minimum yang harus dimiliki seorang siswa untuk bisa diterima sebagai pembuat desain otomotif. Tetapi, setiap institusi pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan vokasional desain otomotif bisa mengembangkan kurikulum yang berbeda untuk mencapai standar tersebut.

“Bagaimana membuat kurikulum untuk mencapai standar itu merupakan kelebihan institusi pendidikan. Dengan begitu tidak semua institusi pendidikan memiliki kurikulum yang sama. Bisa saja kurikulum yang satu berkonsentrasi pada hal-hal tertentu dan kurikulum yang lain mengonsentrasikannya pada hal lain, meskipun bidang keahlian yang dipelajari sama,” katanya.

Oleh karena itu, kurikulum yang dikembangkan di setiap sekolah, di wilayah pendidikan yang satu bisa berbeda dengan wilayah pendidikan lainnya. Perbedaan itu bukan sesuatu yang salah selama standar bidang tertentu yang diharapkan dapat dikuasi anak bisa tercapai.

 

Kategori:Beranda
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: