Beranda > Beranda > Ketika Sayap Patah di Lembah Rembulan

Ketika Sayap Patah di Lembah Rembulan

Achhhhh…… Apa lagi ini. Begitulah ucapku kala kutelusuri lembah rembulan kulihat seekor burung kecil yang terbang lari dari teror dan intimidasi dengan napas yang hampir habis, dan peluh yang juga kering. Setelah kutelusuri lembah rembulan dua hari berlalu dan kembali bertemu dengan burung itu tetap dalam ketakutan dan rasa cemas yang sangat dalam… anda bisa bayangkan khan?
Tepat dua jangkauan lengan satu hasta kurang, ada pemangsa di belakangnya berjuang habis-habisan mengejar buruannya… aku tidak boleh gagal kali ini begitu pekiknya yang menggelegar di lembah rembulan.

Kulihat juga dalam imajinasiku yang mengembara entah kemana anda tahu terkadang terlalu jauh perginya sampai lupa kembali…. dijalan licin berbatu ku lihat seorang tua renta dengan tongkat yang hampir patah memikul sebuah bungkusan… katanya bekal buat di jalan.

Ttooooloooong sayup-sayup terdengar semakin lama semakin mendekat dan jelas ada suara cemas yang hampir putus asa, sebuah burung kecil hinggap dibahu pak tua yang renta sambil berucap….. selamatkan aku wahai musafir sudah dua hari dua malam aku menjadi buruan sampai sayapku hilang kekuatan…demikian burung kecil yang berharap dengan patah sayap hinggap di bahu kirinya.
Sesaat berlalu terdengar suara memelas kasihani aku wahai pak tua.. sudah dua hari aku mengejarnya dari selatan sampai utara menerobos tiupan angin dan panasnya udara… jangan kau hilangkan harapanku, karena anak dan istriku sudah tidak makan dua hari burung kecil ini yang aku cari.
Jika anda menjadi pak tua musafir yang renta jalan dengan tongkatnya dibatu licin lembah rembulan pada musim gerhana… apa yang anda lakukan? selamatkan burung kecil dan patahkan harap burung besar yang berjihad untuk anak istrinya? atau korbankan makhluk kecil karena dianggap tidak berguna….. sulit bukan, tentu keduanya bukan pilihan.
Pak tua lepaskan burung kecil dengan sebuah pesan, terbanglah dan bergembiralah jangan kau putus asa, dari pikulannya dikeluarkan guliran gandum ni bekalmu untuk anak dan istrimu karena letihmu sama dengan yang mengejarmu.
kasihani saya wahai musafir jangan kau biarkan dia terbang jauh nanti aku tak sanggup lagi mengejarnya. musafir tua itu keluarkan pisaunya dan mengasahnya kebatu licin di jalannya, semakin khawatir dan cemaslah sang pemangsa, jangan kau bunuh aku anak dan istriku telah menunggu lama.
Musafir renta singkapkan jubahnya… dan membelah daging betisnya, jangan bersedih beri kabar gembira untuk keluargamu sampaikan salamku dengan kaki yang tidak mungkin lagi melangkah.bawa ini buat mereka. anda tau endingnya?….sabar akan berlanjut nanti yach:)
Yang pasti Bijaklah dalam segala lah jangan patahkan harapan, berilah kabar gembira dengan bahasa, harta, bahkan jiwa anda… jika anda tidak bisa jangan khawatir…. banyak yang akan berbuat untuk anda:)
Kategori:Beranda
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: